REMAJA SEKARANG SUKA MENGUNDANG SETAN
What, mengundang setan? Ihh…. datang tak diundang aja bikin bulu kuduk berdiri.
Memang setan lokal mana sich yang mo diundang? Kuntilanak … sundelbolong … jalangkung … pocongan … jenglot … atau setan anak-anak alias tuyul?
Kekurangan peserta undangan kali….
Kamu tahu nggak acara apa yang secara otomatis menghadirkan para tamu undangan dari bangsa setan?
Uji nyali. Mmm…. Salah. Itu khan acara TV.
Mo tahu?
Ni baca hadits Rasulullah saw:
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا . رواه الحاكم
“Ketahuilah! Benar-benar janganlah orang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang perempuan sebab sesungguhnya setan itu menjadi pihak yang ketiga di antara keduanya.” HR.Al-Hakim.
Gimana … percaya?
Kalo kamu bisa percaya dengan ucapan orang bahwa setan banyak berkeliaran di kuburan dan akan menghantui siapa saja yang lewat di sana (termasuk kamu), lalu bisakah kamu percaya dengan ucapan Rasulullah bahwa setan selalu mendampingi orang yang lagi pacaran berduaan?
Kalo nggak percaya and nggak takut karena yang datang hanya setan lokal, silakan coba aja!
Tapi kalo ada vampire atau drakula (setan luar negeri) mencekik dan menggigit leher kamu berdua dan menyebarkan virus-virus ke dalam tubuhmu, yang dapat mengakibatkan penyakit ‘tumor perut’ dan AIDS, jangan salahkan saya.
Tugas saya cuma mengingatkan lho.
Khususnya bagi remaja-remaja yang lagi keranjingan dengan suasana romantis pacaran, hati-hati! Setan-setan lokal ataupun interlokal akan segera datang merusak dan bikin runyam dalam keindahan romantismu.
Silakan renungkan!
5 comments Juni 21, 2008
DAMPAK KENAIKAN BBM, MASAK MIE CUMAN 2 SENDOK
GILAAAA….! Kalo’ pemerintah naikin tarif BBM, harga barang-barang sembako bakalan naek pula. Ibarat bocah maen layang-layang berekor. Layang-layang berhasil terbang tinggi ke angkasa, ekornya pun terbang tinggi. Kemana layang-layang bergerak, ke sana ekor mengikuti.
Sekarang, udah banyak rakyat pasang kuda-kuda agar tubuh tak terpontang-panting terhempas badai BBM esok hari… Secara resmi, BBM belom naek sich… tapi di sebagian tempe udah da yang jual 7000. gilee…
Sekarang, isu “menanti era refotnasi” jadi bahan santapan sehari-hari… di sana demo… di sini demo… di mana-mana banyak yang demo…la…la…la…la…la…la… (lho ko’ malah nyanyi…) (biarin, dari pada nyuri… gara-gara ga’ punya nasi…weeee…)
Rakyat sengsara… Santri pun semakin susah… itu slogan kami sebagai rakyat…
(P4 = Pemaksaan Pemahaman Pengamalan Penyakitan) hari ini suara hati kami dipaksa untuk memahami kenaikan BBM (kami paham pak! Dari dulu kami paham bahwa pemerintah sukanya nyusahin rakyat) dan dipaksa untuk mengalami berbagai penyakit yang khan datang silih berganti… sakit panas (kerja siang hari tanpa gaji pasti), sakit perut (laper berturut-turut), sakit gigi (karna ga’ da camilan lagi) en sakit hati (so pasti…)
Rakyat sengsara… Santri pun semakin susah… itu slogan kami sebagai santri…
Kiat-kiat jitu mulai dicoba untuk belajar hidup hemat, meminimalisir pengeluaran, juga memangkas penggunaan barang-barang yang tak terlalu penting.
Teman-teman ponpesku ga’ mau kalah. Kiat-kiat super hemat bin ngirit ditempuh dalam rangka menyiasati kenaikan harga-harga bahan makanan, sebab barang-barang di koperasi kian hari harganya kian meroket. Dulu harga mie cuman Rp 750, sekarang udah naek jadi Rp 1250. Padahal makan mie itu cuman sebagai lauk tambahan. Abizzz lauk pokok di pondok tahu tempe melulu… harap maklum… apalagi harga-haraganya tambah mahal… so, tahu tempenya juga semakin mungil…he…he…
Kembali ke soal mie…
Siasat jitu kami, biar 1 mie bisa dinikmati dalam sehari (3 kali makan), mie yang dimasak sekali makan cuman ⅓ bungkus, bahkan ada yang ¼ bungkus. Dan kalo uang tabungan mulai menipis, satu bungkus mie diremes-remes lalu ambil dua sendok makan, masukkan dalam gelas, lalu diseduh dengan air panas… mie pun siap disantap… ehm… lezaaat…! Lha trus, bumbunya gimana? Oalaah… soal bumbu, ga’ mazaalaah! Yang penting kasih garam yang buanyaak, plus… biar sajiannya keliatan seperti mie sebungkus, air panasnya ditambah… en biar cepet kenyang… yach nasinya juga tanduk… jitu bukan… silahkan dicoba…!
Kami tidak malu or sedih dengan keadaan seperti ini. Bapak-Bapak dan Mbah-Mbah kami, dengan bangga, pernah bercerita pengalaman pahit tentang terbatasnya bahan makanan di zaman perjuangan. Gaplek adalah menu utama, sedang nasi sebagai lauknya. Saat panen padi, cukup air garam sebagai kuahnya.
Kami bangga walaupun 1 bungkus untuk 1 orang, sekali makan ¼ bungkus. Lumayan, ada pengalaman hidup, bekal cerita untuk anak-cucu kami besok. Beginilah nasib rakyat jelata… termakan oleh kerakusan para penguasa… apa para penguasa kita juga pernah masak mie cuman 2 sendok yach…???! he… gokil kaleeee….
Add comment Juni 21, 2008
AKU DALAM MUNAQASAH
Seorang teman bertanya, “Munaqasah tu pa’an sich?” Bapakku yang hanya lulusan SD juga bertanya berkali-kali tentang proses munaqasah. Hampir jama’ah taklim yang sempat berpapasan dan bersalaman denganku. Pasti menanyakan, “Gimana munaqasahnya?”
Pemakalah dan peresensi dari kalangan temen-temenku bersemangat dalam menyelesaikan tulisan supaya segera masuk munaqasah. Kamar komputer tak pernah sepi, siang malam. Mesin komputer tak pernah di-turn off atau shut down kecuali jam 10 malam – 6 pagi atau pas lampu mati (orang Solo bilang oglangan).
Setelah tulisan sempurna diketik, beberapa kertas HVS ukuran A4 dimasukkan dalam printer, lalu klik ‘OK’ untuk print. Jadi deh …
“Ustadz, bisa minta waktunya untuk konsultasi?”
Aku harus curahkan seluruh konsentrasiku dalam penyususnan makalah dan sering-sering konsultasi kepada par apembimbingku dengan harapan aku segera masuk munaqasah. Dan hal yang paling penting adalah proses munaqasahku nanti berjalan lancar dan mudah.
Kini, Alhamdulillah, aku sedang menghadapi apa yang dulu aku elu-elukan, MUNAQASAH. Aku tak sendirian. Banyak temanku mengalami nasib yang sama. Karena peserta munaqasah berjumlah lebih dari 15, maka asatidz, sekaligus penguji, membentuk dua kelompok. Para peserta maju secara bergilir.
“Penulis, mengapa ayat ini dimasukkan dalam bab ini? Apa kepentingannya?”
“Saya sarankan, penulis mengutip hadits Abu Hurairah untuk menguatkan pendapat ulama tersebut.”
“Bagaimana kalau susunan kalimat itu dibalik agar nampak penekanan bahwa penulis hendak menyatakan ketidaksetujuan terhadap pendapat Imam Asy-Syafi’i?”
“Paragraf terakhir ini diedit lagi ya, penulis!”
Para penguji yang berjumlah 3-4 orang melontarkan beribu pertanyaan untuk menguji validitas atau kebenaran tulisanku. Akupun berusaha keras mengeluarkan dalil-dalil akurat dan sebisa mungkin representatif untuk mempertahankan tulisanku. Walaupun demikian, tak sedikit saran dan kritik aku terima setelah tak mampu menjawab, karena aku tidak boleh bersikap keras kepala dalam karangan ilmiah jika memang terbukti tulisanku keliru.
Keringat dingin, jantung berdebar, dan lisan terasa kaku adalah suatu keadaan yang biasa dialami oleh pemakalah/peresensesi yang maju munaqasah. Termasuk aku. Padahal, sebelum tiba giliranku, persiapan demi persiapan, baik mental maupun file revisi harus betul-betul bersamaku. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tanganku terlalu pendek.
Mungkin ada betulnya kalau aku katakan, sidang munaqasah adalah arena penyiksaan. Rasul bersabda:
Barangsiapa yang dimunaqasah, pasti dia disiksa.
Sebetulnya, hadits di atas menceritakan keadaan di akhirat kelak bahwa barangsiapa yang dihisab lama karena banyaknya pertanyaan yang harus dijawab, maka bisa-bisa dia akan disiksa. Gambarannya, orang yang hidup di dunia dengan harta limpah ruah, di Akhirat akan menghadapi sidang munaqasah Allah. “Dari mana, dengan cara apa dan kemana kau belanjakan hartamu?” Adapun orang miskin yang di dunia selalu berbuat kebajikan, maka proses hisabnya serasa singkat, masuk ke dalam jannah seperti kilat.
Sidang munaqasah memang menegangkan. Tapi aku harus menghadapinya. Harapanku lulus dari ma’had dan mendapat ijazah dari masyayikh. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Doakan ya teman!
4 comments Juni 21, 2008