Archive for Juni 23rd, 2008

Bagaimana mendefinisikan cantik dan macho

Kulit kuning langsat, rambut lurus, hidung mancung, mata blalak-blalak, postur tubuh tinggi semampai (bodi aduhai, sebagian bilang semlohai), baru sempurna. Orang akan bilang, wah….cantiknya. Sementara seorang perempuan ketika melihat laki-laki berbadan kekar, dada bidang ditumbuhi bulu, hidung mancung, akan bilang laki-laki itu macho.

Sejumlah perempuan pun kemudian rajin memakai whitening lotion untuk memutihkan kulitnya, baik yang tempo beberapa bulan, atau hasilnya baru dirasakan beberapa minggu, bahkan yang instan, seperti yang ditampilkan dalam iklan di layar kaca. Tak jarang pula mengoperasi hidungnya biar tambah mancung atau payudaranya biar tampak lebih montok berisi, rajin mengkonsumsi obat antikolesterol untuk melangsingkan tubuhnya, rajin pedicure, manicure, mencukur bulu kaki agar tampak bening seluruh jasad badannya. Semua itu dilakukan karena keputihan (bukan pek tay lho), kemulusan, kemolekan tubuh adalah ukuran kesempurnaan bagi perempuan untuk disebut cantik, seksi.

Cantik adalah perempuan yang berkulit putih mulus atau kuning langsat, berhidung mancung. Seksi adalah perempuan yang berbibir tipis, langsing, berbodi serba proporsional. Anggun adalah perempuan yang bisa membawa diri dengan gaya pakaian dan perhiasannya (fashionable),atau gaya berjalan yang layaknya mannequin hidup, atau makan dan minum dengan etiket kelas internasional yang diajarkan di sekolah pengembangan diri. Sebaliknya, bila tidak memenuhi kriteria tersebut maka seorang perempuan tidak layak menyandang predikat cantik, seksi dan anggun.

Para laki-laki juga sama. Mereka berobat untuk menumbuhkan bulu didadanya. Ketika ustadz gaul yang berjenggot lagi ngetren, sejumlah pria pun berusaha menumbuhkan jenggotnya, tanpa kopyah dan koko tentunya. Atau rajin fitnes untuk memiliki bentuk tubuh seperti yang diidamkan oleh para perempuan seperti yang ditampilkan dalam iklan suplemen penambah stamina atau rokok sang petualang.

Aha… Dari mana sebenarnya definisi cantik, ganteng, gagah, anggun, dan seksi itu?

Sadar atau tidak, definisi itu terbentuk oleh lingkungan sekitar. Penilaian itu direkonstruksi oleh orang-orang disekitar kita. Di mana kita berada, di mana kita tinggal, dengan siapa kita bergaul, semuanya akan mempengaruhi pada penilaian kita. Dengan kata lain, penilaian itu tergantung pada komunitas yang memaknainya. Ingat fenomena penyakit panas dalam?

Di zaman serba-teknologi ini, media memegang peranan yang amat penting. Tayangan sinetron, infotainment selebritis, show anak band hingga iklan kecantikan atau obat kuat di televisi yang banyak digandrungi oleh kaum muda, laki-perempuan, ternyata banyak menyuguhkan definisi kesempurnaan kalangan tertentu.

Bintang film, bintang sinetron dipilih perempuan yang berkulit putih, berpostur tubuh proporsional, sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi penontonnya bahwa kesempurnaan, kecantikan itu seperti yang ada di layar kaca. Bahkan penyanyi yang mestinya menonjolkan kualitas suara pun tak kan mendapatkan tempat ketika tidak memenuhi kriteria tersebut.

Sungguh naif, orang-orang kampung yang menonton sinetron itu sekaligus juga mengkonsumsi gaya hidup (life-style) para selebritis. Mereka berdandan, bersolek, bahkan bergaul ala selebritis. Sementara apa yang dipertontonkan di layar kaca itu tak sepenuhnya sesuai dengan realita di sekitar kehidupan mereka, bahkan di lingkungan selebritisnya sekalipun. Toh itu hanya peran. Proletarisme-udik dan konsumerisme-metropolis saling bertabrakan. Dan anehnya, hal itu dianggap wajar, meski kadang bahkan sering hal demikian mengundang tawa dan senyum tertahan dari sebagian lainnya.

Kebanyakan sinetron menampilkan kehidupan secara hitam-putih. Keluarga kaya yang saleh dan rajin beramal, si miskin yang berandalan, atau sebaliknya, keluarga kaya yang tak pernah hidup harmonis. Atau lebih konyol lagi, suami ustadz sementara sang istri bejat, atau istri sholih bersuami pemabuk dan penjudi.

Kembali kepada definisi kecantikan, kegantengan, keanggunan dan keseksian seperti yang ditampilkan lewat televisi, bagaimana dengan penduduk Papua, yang notabene berkulit gelap, berambut keriting, berbibir lebih tebal, sama sekali beda dengan definisi kecantikan yang dipertontonkan oleh layar kaca. Apakah mereka harus memakai whitening lotion agar kulitnya berubah menjadi putih, agar mereka bisa disebut cantik, atau operasi bibir agar mereka bisa disebut seksi, atau rebonding agar rambut lurus bak model shampo? Sementara tidak sedikit bule yang rela berjemur berjam-jam untuk mendapatkan warna kulit gaya tropis.

Dalam kondisi masyarakat yang majemuk ini, definisi cantik di Indonesia perlu diubah. Bahwa cantik tak harus berkulit putih seperti bule, karena orang Indonesia rata-rata berkulit sawo matang, bahwa cantik tak harus berhidung mancung, bahwa anggun tak harus berpakaian merk terkenal dan bergaya makan bak miss universe, dan seksi tak harus berpayudara besar, dan lain-lain.

Bagaimana keuniversalan kecantikan, keanggunan, kegantengan, keseksian seseorang? Untuk memahami perbedaan, pertanyaan ini tak perlu diperdebatkan, karena tiap orang punya ketertarikan masing-masing, tiap orang memiliki daya pikatnya sendiri, dan semua tak bisa dipakai ukuran yang umum.

Beranikah Anda memaknai sebuah kecantikan secara lain dari versi orang kebanyakan, memaknai cantik yang tak harus sama dengan komunitas umum masyarakat, atau mengatakan cantik yang berbeda dari kecantikan yang diajarkan oleh televisi? Atau macho adalah tidak seperti yang dikata masyarakat kebanyakan?

Dalam peradaban Islam, seorang perempuan dikatakan cantik dan anggun bila memenuhi kriteria mampu meneduhkan pandangan suaminya, mampu menenangkan kegundahan hati suaminya dan ta’at pada suaminya. Perempuan dikatakan seksi apabila mampu menyenangkan suami dan mengundang desah kagum akan layanan istrinya. Dan pria perkasa, macho adalah yang mampu menidurkan istri dalam dekapannya. Menumbuhkan ketenangan dan ketentraman jiwa bagi pasangannya.

Lantas bagaimanakah sebenarnya ketika seorang ikhwan berseru cantik ketika mendapati seorang akhwat berjilbab rapi? Atau sebaliknya ketika seorang akhwat tersenyum penuh arti kepada teman akwatnya ketika seorang ikhwan berkoko rapi dan berjenggot tipis melintas di hadapan mereka?

Diambil dari (www.yakinku.wordpress.com)

2 comments Juni 23, 2008


 

Juni 2008
M S S R K J S
    Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Arsip

Blogroll

Tulisan Terakhir

Meta

Komentar Terakhir

Milly di REMAJA SEKARANG SUKA MENGUNDAN…
kamal musthofa di “Hujan” turun, malah bikin ker…
h a b i b di “Hujan” turun, malah bikin ker…
Emen-C di AKU DALAM MUNAQASAH
rumisha di CINTA ITU ANUGERAH ALLAH
h a b i b di AKU DALAM MUNAQASAH
nurhadihusna di AKU DALAM MUNAQASAH
ita di TUBUH DI JILBAB, HATI TEL…

Halaman

Tulisan Teratas

RSS yakinku