KASUS FPI MENGUNTUNGKAN BANYAK PIHAK
Juni 22, 2008
Buntut dari penyerangan FPI terhadap AKKBB di Monas, lebih dari 50 orang anggota FPI diciduk Polda Metro Jaya. Berbeda dengan apa yang disampaikan pembawa berita Metro TV pada Rabu pagi, bahwa “Seribu lima ratus polisi menyerbu, dan laskar FPI menyerah tanpa daya”, nyatanya secara langsung stasiun stasiun-stasuin TV menayangkan bahwa Habib Riziq sebagai Ketum justru menyerahkan anggotanya secara baik2, dengan negosiasi yang sangat mudah. Sama sekali tanpa penyerbuan, apalagi perlawanan—sehingga tak perlu kiranya ditambah embel-embel ‘tanpa daya’.
Lagi-lagi media yang berperan penting terhadap opini masyarakat melakukan ‘kekhilafan’ (saya beri kutip karena tak yakin ini sebuah ketidaksengajaan). Setiap hari ba’da tragedi itu, media massa, terutama Metro TV selalu bernada sinis dalam menyampaikan beritanya. Stasiun dengan label Election Channel itu mendadak tak profesional dengan ketimpangannya menyampaikan informasi.
Sebenarnya tak hanya masyarakat awam yang menyayangkan tindakan FPI terhadap AKKBB, saya yakin para ulama dan aktivis Muslim pun berpendapat sama. Karena dengan demikian, Ahmadiyah justru mendapat angin segar. Bisa jadi masyarakat kemudian malah menaruh simpati pada mereka, seperti apa yang diupayakan Israel dengan dongeng Holocoustnya.
FPI mungkin lupa bagaimana Ali k.w menahan tangannya karena tak ingin melukai karena marah—seharusnya karena Allah. Apalagi pemerintah tak mau mengerti mengapa FPI marah pada AKKBB yang mendukung Ahmadiyah dan dimotori JIL (Jaringan Islam Liberal—sering dipelesetkan menjadi Jaringan Iblis Laknatullah—karena penyimpangannya tak kurang parah dari Ahmadiyah, dengan tidak mengakui keaslian al-Quran, menghalalkan homoseksual, dan kerap mendukung aliran-aliran sesat berkedok atas nama HAM). Hal ini diperparah dengan ketidakimbangan informasi yang didapat masyarakat umum.
Media massa umumnya lebih suka menampilkan berita pengrusakan oleh FPI, tapi tak sekalipun mereka sudi meliput kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang pernah FPI gelar. Salah satu contoh, saat Tsunami menerjang NAD. Belum lagi aparat dan bantuan pusat menempelkan ujung kakinya di tanah Serambi Makkah itu, laskar FPI dan kader PKS telah menggendong mayat dan mendirikan posko bantuan. Dijamin, berita ini tidak akan Anda temui di media-media besar. Stasiun-stasiun TV lebih suka mengabadikan adegan lempar kardus mi instan dari helikopter oleh bule-bule Amerika daripada men-shoot ketua MPR-nya yang mengangkat bangkai manusia dari puing-puing bangunan. Tak berbeda dengan media elektronik, media cetak pun lebih gandrung menjepret tentara-tentara kulit putih yang melemparkan bantuan dari udara daripada Habib Riziq dan pemuda-pemuda FPI yang bergumul dengan lumpur sementara lisannya penuh dengan dzikir.
Pun kalau memang lebih banyak sikap keras yang diperlihatkan FPI, coba perhatikan baik-baik benda dan tempat apa yang mereka jadikan target. Pernahkah FPI menyerbu gereja? Atau memorakporandakan fasilitas pendidikan dan kesehatan? Yang dihancurkan FPI adalah bar, warung remang-remang, tempat biliard, dan sarang maksiat lainnya.
Sebenarnya beberapa paragraf di atas saya ketik sejak sekian hari lalu, tapi kemudian saya merasa perlu menambahkan lagi. Mengingat, ada banyak hal terkuak belakangan ini.
Ada sebuah keganjilan yang terjadi pada 1 Juni itu. Pada wartawan SCTV, sekjen PDIP, Poernomo Anung, menjelaskan, ia mendapat kabar dari salah seorang intel bahwasanya akan terjadi kerusuhan di monas bersamaan dengan aksi memperingati hari Pancasila—yang pada saat bersamaan, FPI mengadakan aksi menolak kenaikan BBM. Bagaimana mungkin yang bersangkutan bisa mengetahui hal tersebut jika memang tidak direncanakan demikian? Apalagi bentrok itu terjadi di depan istana, tanpa seorang aparat pun yang bersiaga di sana. Satu hal yang mustahil, kecuali jika memang itu yang diinginkan. Alhasil, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. FPI sebagai ormas Islam paling kritis dan berani terancam dibubarkan, isu BBM pun dilupakan. Selamat!
by: SYARIFAH LESTARI
Jumat, 6 Juni, 2008 – pukul 3:17
Entry Filed under: rasail minhum. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed