Beragama Islam, tapi kok . . .
Juni 22, 2008
Rasulullah Muhammad saw, selain pemimpin negara, juga memimpin seluruh umat Islam di dunia. Setelah wafatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra tampil sebagai kholifah (pengganti). Lalu Umar bin Khotob, Usman bin Affan, kemudian Ali bin Tholib, secara estafet, meneruskan dan memegang kekuasaan atas muslimin di seluruh dunia.
Umat Islam zaman sekarang, katanya berpegang teguh sunah Rasul, tapi kok . . .
Rasulullah bersabda bahwa Islam tiu unggul tidak akan diungguli. Semenjak beliau secara resmi diangkat sebagai Rasulullah, khususnya dilantik sebagai kepala negara Madinah Al-Munawarah hingga kepemimpinan Al-Khulafaur Rasyidun selama kurang lebih 10 tahun, muslimin semakin disegani oleh lawan-lawanyanya, baik kuantitas maupun kualitasnya.
Kini, muslimin di Palestina, Afghanistan, Irak dan negara kita sendiri Indonesia yang meyoritas penduduknya beragama Islam, para pemimpinnya juga mengaku Islam, tapi kok …
Ketika musim pemilu datang, semua capres-cawapres muslim mengobral janji-janji baik, seperti akan meningkatkan mutu pendidikan, bahkan dibikin gratis, memperbaikin ekonomi, melindungi, mengayomi dan slalu berpihak pada rakyat, dekat dengan ulama, menciptakan banyak lapangan kerja serta menegakkan hukum.
Begitu dua orang dari mereka terpilih menjadi presiden dan wakilnya, keputusan dan kebijaksanaan pun diambil, tapi kok . . . pendidikan . . . ekonomi . . . BBM . . . penjara penuh ulama dan aktivis . . . pengangguran . . . koruptor dibiarkan . . . pelaku kriminal . ..
Hasil UAN ditempelkan di papan-papan pengumuman sekolah. Para pelajar berbondong-bondong menyaksikan dengan hati yang berdebar-debar, antara optimis dan pesimis, lega dan was-was.
“Horee . . . aku lulus!” teriak seorang pelajar yang namanya tercantum dalam kolom lulus. Lalu ia dan temen-temennya yang lulus pula segera mengendarai sepeda motor, saling berboncengan. Mereka melakukan konvoi di sepanjang jalan raya hingga jalur lalu lintas menjadi macet.
Di tempat lain, beberapa pelajar, siswa dan siswi, melakukan aksi corat-coret baju. Sebagai tanda persahabatan, tak sedikit dari mereka yang cipika-cipiki, saling rangkul. Dan masih banyak lagi aksi-aksi lain yang hanya sekedar meluapkan rasa kegembiraan.
Katanya sich mereka pelajar-pelajar Islam, tapi kok . . .
Diprediksikan angka ketidaklulusan para pelajar tahun ini bakal naik. Menangis, kecewa, terbengong-bengong, kaget, seakan-akan terbuai dalam mimpi, bahkan ada yang jatuh pingsan. Suasana sedih dan perasaan tidak puas, para pelajar harus menerima kenyataan pahit ini. Siapa yang salah?
Entry Filed under: qolamy bil hiss. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed