DAMPAK KENAIKAN BBM, MASAK MIE CUMAN 2 SENDOK
Juni 21, 2008
GILAAAA….! Kalo’ pemerintah naikin tarif BBM, harga barang-barang sembako bakalan naek pula. Ibarat bocah maen layang-layang berekor. Layang-layang berhasil terbang tinggi ke angkasa, ekornya pun terbang tinggi. Kemana layang-layang bergerak, ke sana ekor mengikuti.
Sekarang, udah banyak rakyat pasang kuda-kuda agar tubuh tak terpontang-panting terhempas badai BBM esok hari… Secara resmi, BBM belom naek sich… tapi di sebagian tempe udah da yang jual 7000. gilee…
Sekarang, isu “menanti era refotnasi” jadi bahan santapan sehari-hari… di sana demo… di sini demo… di mana-mana banyak yang demo…la…la…la…la…la…la… (lho ko’ malah nyanyi…) (biarin, dari pada nyuri… gara-gara ga’ punya nasi…weeee…)
Rakyat sengsara… Santri pun semakin susah… itu slogan kami sebagai rakyat…
(P4 = Pemaksaan Pemahaman Pengamalan Penyakitan) hari ini suara hati kami dipaksa untuk memahami kenaikan BBM (kami paham pak! Dari dulu kami paham bahwa pemerintah sukanya nyusahin rakyat) dan dipaksa untuk mengalami berbagai penyakit yang khan datang silih berganti… sakit panas (kerja siang hari tanpa gaji pasti), sakit perut (laper berturut-turut), sakit gigi (karna ga’ da camilan lagi) en sakit hati (so pasti…)
Rakyat sengsara… Santri pun semakin susah… itu slogan kami sebagai santri…
Kiat-kiat jitu mulai dicoba untuk belajar hidup hemat, meminimalisir pengeluaran, juga memangkas penggunaan barang-barang yang tak terlalu penting.
Teman-teman ponpesku ga’ mau kalah. Kiat-kiat super hemat bin ngirit ditempuh dalam rangka menyiasati kenaikan harga-harga bahan makanan, sebab barang-barang di koperasi kian hari harganya kian meroket. Dulu harga mie cuman Rp 750, sekarang udah naek jadi Rp 1250. Padahal makan mie itu cuman sebagai lauk tambahan. Abizzz lauk pokok di pondok tahu tempe melulu… harap maklum… apalagi harga-haraganya tambah mahal… so, tahu tempenya juga semakin mungil…he…he…
Kembali ke soal mie…
Siasat jitu kami, biar 1 mie bisa dinikmati dalam sehari (3 kali makan), mie yang dimasak sekali makan cuman ⅓ bungkus, bahkan ada yang ¼ bungkus. Dan kalo uang tabungan mulai menipis, satu bungkus mie diremes-remes lalu ambil dua sendok makan, masukkan dalam gelas, lalu diseduh dengan air panas… mie pun siap disantap… ehm… lezaaat…! Lha trus, bumbunya gimana? Oalaah… soal bumbu, ga’ mazaalaah! Yang penting kasih garam yang buanyaak, plus… biar sajiannya keliatan seperti mie sebungkus, air panasnya ditambah… en biar cepet kenyang… yach nasinya juga tanduk… jitu bukan… silahkan dicoba…!
Kami tidak malu or sedih dengan keadaan seperti ini. Bapak-Bapak dan Mbah-Mbah kami, dengan bangga, pernah bercerita pengalaman pahit tentang terbatasnya bahan makanan di zaman perjuangan. Gaplek adalah menu utama, sedang nasi sebagai lauknya. Saat panen padi, cukup air garam sebagai kuahnya.
Kami bangga walaupun 1 bungkus untuk 1 orang, sekali makan ¼ bungkus. Lumayan, ada pengalaman hidup, bekal cerita untuk anak-cucu kami besok. Beginilah nasib rakyat jelata… termakan oleh kerakusan para penguasa… apa para penguasa kita juga pernah masak mie cuman 2 sendok yach…???! he… gokil kaleeee….
Entry Filed under: tajribah hayah. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed