AKU DALAM MUNAQASAH

Juni 21, 2008

Seorang teman bertanya, “Munaqasah tu pa’an sich?” Bapakku yang hanya lulusan SD juga bertanya berkali-kali tentang proses munaqasah. Hampir jama’ah taklim yang sempat berpapasan dan bersalaman denganku. Pasti menanyakan, “Gimana munaqasahnya?”

Pemakalah dan peresensi dari kalangan temen-temenku bersemangat dalam menyelesaikan tulisan supaya segera masuk munaqasah. Kamar komputer tak pernah sepi, siang malam. Mesin komputer tak pernah di-turn off atau shut down kecuali jam 10 malam – 6 pagi atau pas lampu mati (orang Solo bilang oglangan).

Setelah tulisan sempurna diketik, beberapa kertas HVS ukuran A4 dimasukkan dalam printer, lalu klik ‘OK’ untuk print. Jadi deh …

“Ustadz, bisa minta waktunya untuk konsultasi?”

Aku harus curahkan seluruh konsentrasiku dalam penyususnan makalah dan sering-sering konsultasi kepada par apembimbingku dengan harapan aku segera masuk munaqasah. Dan hal yang paling penting adalah proses munaqasahku nanti berjalan lancar dan mudah.

Kini, Alhamdulillah, aku sedang menghadapi apa yang dulu aku elu-elukan, MUNAQASAH. Aku tak sendirian. Banyak temanku mengalami nasib yang sama. Karena peserta munaqasah berjumlah lebih dari 15, maka asatidz, sekaligus penguji, membentuk dua kelompok. Para peserta maju secara bergilir.

“Penulis, mengapa ayat ini dimasukkan dalam bab ini? Apa kepentingannya?”

“Saya sarankan, penulis mengutip hadits Abu Hurairah untuk menguatkan pendapat ulama tersebut.”

“Bagaimana kalau susunan kalimat itu dibalik agar nampak penekanan bahwa penulis hendak menyatakan ketidaksetujuan terhadap pendapat Imam Asy-Syafi’i?”

“Paragraf terakhir ini diedit lagi ya, penulis!”

Para penguji yang berjumlah 3-4 orang melontarkan beribu pertanyaan untuk menguji validitas atau kebenaran tulisanku. Akupun berusaha keras mengeluarkan dalil-dalil akurat dan sebisa mungkin representatif untuk mempertahankan tulisanku. Walaupun demikian, tak sedikit saran dan kritik aku terima setelah tak mampu menjawab, karena aku tidak boleh bersikap keras kepala dalam karangan ilmiah jika memang terbukti tulisanku keliru.

Keringat dingin, jantung berdebar, dan lisan terasa kaku adalah suatu keadaan yang biasa dialami oleh pemakalah/peresensesi yang maju munaqasah. Termasuk aku. Padahal, sebelum tiba giliranku, persiapan demi persiapan, baik mental maupun file revisi harus betul-betul bersamaku. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tanganku terlalu pendek.

Mungkin ada betulnya kalau aku katakan, sidang munaqasah adalah arena penyiksaan. Rasul bersabda:

Barangsiapa yang dimunaqasah, pasti dia disiksa.

Sebetulnya, hadits di atas menceritakan keadaan di akhirat kelak bahwa barangsiapa yang dihisab lama karena banyaknya pertanyaan yang harus dijawab, maka bisa-bisa dia akan disiksa. Gambarannya, orang yang hidup di dunia dengan harta limpah ruah, di Akhirat akan menghadapi sidang munaqasah Allah. “Dari mana, dengan cara apa dan kemana kau belanjakan hartamu?” Adapun orang miskin yang di dunia selalu berbuat kebajikan, maka proses hisabnya serasa singkat, masuk ke dalam jannah seperti kilat.

Sidang munaqasah memang menegangkan. Tapi aku harus menghadapinya. Harapanku lulus dari ma’had dan mendapat ijazah dari masyayikh. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Doakan ya teman!

Entry Filed under: tajribah hayah. .

4 Comments Add your own

  • 1. h a b i b  |  Agustus 4, 2008 at 1:52 pm

    berakit-rakit ke hulu, berenang ke ponggok.
    cepet lulus ya. entar jadi ustadz di kampungku. aku mau bikin ma’had ya’lu wa laa yu’la ‘alaih…

    Balas
  • 2. nurhadihusna  |  Agustus 12, 2008 at 5:42 am

    berakit-rakit ke hulu, sampailah ke karanganyar
    jazakamullahu khoiron doanya.
    lho, antum mo bikin ma’had baru too?
    ya boleh, tapi saya harus lulus ma’had aly dulu ych supaya jadi ya’lu wa laa yu’la ‘alaih….

    Balas
  • 3. h a b i b  |  September 17, 2008 at 6:59 am

    ok. sukses buat munaqosahnya ya…..
    may God bless you.

    Balas
  • 4. Emen-C  |  September 23, 2008 at 12:22 pm

    Alhamdulillah, finish!
    Selamat mengarungi dunia jihad barumu, ustadz muda!!!

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

Juni 2008
M S S R K J S
    Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Arsip

Blogroll

Tulisan Terakhir

Meta

Komentar Terakhir

Milly di REMAJA SEKARANG SUKA MENGUNDAN…
kamal musthofa di “Hujan” turun, malah bikin ker…
h a b i b di “Hujan” turun, malah bikin ker…
Emen-C di AKU DALAM MUNAQASAH
rumisha di CINTA ITU ANUGERAH ALLAH
h a b i b di AKU DALAM MUNAQASAH
nurhadihusna di AKU DALAM MUNAQASAH
ita di TUBUH DI JILBAB, HATI TEL…

Halaman

Tulisan Teratas

RSS yakinku