“Hujan” turun, malah bikin kering …

Sampai hari ini, Solo belum juga diguyur hujan. Solo yang lama menjadi kering, ingin dibasahi. Entah … mungkin penyebabnya adalah global warming ba’dallah. Wallahu A’lam.

Bulan puasa juga bikin perutku kering di waktu siang hari. Tapi, Sabtu sore, tepatnya 20 September 2008 perut dan tenggorokanku tambah kering setelah “hujan” lebat turun.

(lagi…)

2 comments September 22, 2008

TUBUH DI JILBAB, HATI TELANJANG

Beberapa waktu lalu, dalam suatu pengajian saya dan rekan-rekan pengajian melakukan perdebatan panjang tentang Jilbab, dan prilaku pemakainya, yang saya sebut dalam hal ini adalah “Tubuh berjilbab Hati Telanjang” Kenapa saya menulis seperti itu, karena kita bisa lihat pada kenyataan sehari-hari, banyak Wanita Muslim yang memakai jilbab masih berkelakuan layaknya masyarakat umum. hal itu dapat kita lihat dari Pemakaian jilbab, tetapi busana yang dikenakan membentuk lekuk tubuhnya, atau yang berjilbab tapi masih pegangan tangan dengan pria yang bukah muhrimnya atau Bahkan ada fenomena yang menurut saya sangat menghina Agama Islam, yaitu banyaknya Wanita berjilbab yang terjerembab dalam Sebuah Zina.(EA)

Menurut wikipedia Kata jilbab (bahasa arab: جلباب ) di Indonesia merujuk pada jenis pakaian berupa penutup kepala dari helaian kain, atau sering juga disebut dengan kerudung atau tudung . Pengertian ini sebenarnya salah kaprah dan hanya berlaku di Indonesia. Di negeri Islam lainnya , jilbab lebih merujuk pada pakaian terusan panjang menutupi seluruh badan kecuali tangan, kaki dan wajah yang biasa dikenakan oleh para wanita muslim. Penggunaan jenis pakaian ini terkait dengan tuntunan ajaran Islam untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat atau dikenal dengan istilah hijab. Sementara kerudung sendiri di dalam Al Qur’an disebut dengan istilah khumur, sebagaimana terdapat pada surat An Nuur ayat 31 : “Hendaklah mereka menutupkan khumur (kerudung-nya) ke dadanya.”

Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albany kriteria jilbab yang benar harus menutup seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak , jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas.
Pendapat yang sama sebagaimana dituturkan Ikrimah, jilbab itu menutup bagian leher dan mengulur ke bawah menutupi tubuhnya,sementara bagian di atasnya ditutup dengan khimâr (kerudung) yang juga diwajibkan (QS an-Nur [24]: 31).

Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. (HR Muslim)

ketika jilbab hanya menjadi tren busana. inilah yang disebut berpakaian tapi telanjang. hijab yang benar adalah menutupi semua aurat tubuh (baik kulit maupun lekuk tubuh) kecuali wajah dan telapak tangan. Kalau anda mengenakan jilbab itu berarti menutup segalanya tidak cuma menutup aurat aja, tapi juga tingkah laku harus direm. Rasanya ngga pantas wanita yang memakai jilbab tapi masih suka tertawa terbahak-bahak, masih suka berpelukan di muka umum, masih suka berpakaian yang super ketat entah itu baju atau celana panjangnya.. ..kamu juga lihat sendiri kan salah kaprah pemakaian jilbab dikalangan wanita muda.(EA)

Saat ini wanita muslim kadang Enggan menggunkan jilbab dengan alasan sebagai berikut:

* Kesiapan mental untuk meninggalkan pola hidup saat ini
Banyak yang merasa belum siap secara mental & hati nuraninya untuk memakai jilbab. Kita tahu sendiri gimana era globalisasi begitu kuat mempengaruhi pola pikir, tingkah laku, dan busana apalagi kaum wanita begitu banyak godaannya, baju yang stretch, rok mini, celana seksi, model rambut yang ada-ada aja. Keinginan untuk ikut mengenakan semua itu sangat kuat, sebagian besar ya pengaruh lingkungan & teman-teman kalau tidak mengikuti dibilang ketinggalan jaman. bukan berarti mereka itu ngga ngerti agama loh,malah banyak juga yang agamanya lumayan bagus tapimasih merasa belum siap…masih berupa niat aja.

* Takut dengan respons lingkungan
Ini juga banyak yang jadi kendala, seringkali lingkungan menganggap wanita berjilbab itu ngga oke diajak ngobrol soal segala macam, ngga bisa bergaul. Padahal belum tentu yach. Trus kalo berbuat salah sedikit langsung jadi pusat perhatian, Nah ini dia banyak yang belum siap untuk selalu bersikap sempurna…tuntutan ini dari lingkungan terasa besarnya.

* masalah kepraktisan
sudah jadi rahasia umum baju muslim berjilbab itu harganya lumayan mahal. Namanya wanita apalagi yang modern tetap ingin tampil cantik walaupun berjilbab… tapi banyak juga yang merasa ngga praktis untuk selalu pakai lengan panjang atau rok panjang. Tapi belakangan ini alhamdulillah
sebenarnya mulai banyak mode pakaian yang sederhana tapi tetap bisa dipadupadankan dengan jilbab. Untuk ke kantorpun sebenarnya sudah banyak kelonggaran sekarang ini.

sebagian wanita yang menggunakan jilbab hanya karena sekedar disuruh atau diwajibkan oleh orang tua, tempat belajar atau tempatnya bekerja. Jika telah keluar dari ‘aturan’ itu, maka lepas pula jilbab yang menutupi kepalanya. Mungkin karena itulah kain-kain itu tidak menutup secara benar kepala dan dada mereka. Sebagian lagi, memakai jilbab karena pada saat itu, jilbab terasa pas untuk dipakai dan lebih menimbulkan kesan ‘gaya’ dan kereligiusan agama. Apalagi jika diberi pernak-pernik di sana-sini. Jilbab yang seharusnya menutup keindahan wanita tersebut malah justru menambah keindahan itu sendiri. Ditambah lagi kesan agamis yang terasa nyaman di hati. “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. AllAh Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Ahzab: 59)

Saya hanya berharap bahwa Wanita muslim dapat segera mengaplikasikan pemakaian jilbab sebab jilbab menjadi identitas utama bagi muslimah. Di mana pun anda berada bila anda mengenakan jilbab, kita dikenali sebagai muslimah. Dan setelah anda menjilbabkan Tubuh Anda, Kaum muslimah juga wajib menjilbabkan Hatinya dengan tidak lagi Berpeganagn atau tidak lagi berpelukan Dengan yang bukan Mahramnya., bahkan marak beredar rekaman Video Orang berjilbab melakukan Hubunga Seks(EA)

Helvy Tiana Rosa mengatakan: “jilbab bukan menjadi satu-satunya indikator ketakwaan Seseorang. Tetapi jilbab menjadi salah satu realisasi amaliyah dari keimanan kita” kerudung = penutup kepala,jilbab = penutup aurat. Semoga Semua wanita muslim yang berjilbab dapat menjaga hati dan perbuatan. karena anda selain membalutkan jilbab ke tubuh anda, anda juga harus membalutkan jilbab ke hati anda. (EA)

By: Erwin Arianto

Depok: 24 Juni 2008

6 comments Juni 25, 2008

Bagaimana mendefinisikan cantik dan macho

Kulit kuning langsat, rambut lurus, hidung mancung, mata blalak-blalak, postur tubuh tinggi semampai (bodi aduhai, sebagian bilang semlohai), baru sempurna. Orang akan bilang, wah….cantiknya. Sementara seorang perempuan ketika melihat laki-laki berbadan kekar, dada bidang ditumbuhi bulu, hidung mancung, akan bilang laki-laki itu macho.

Sejumlah perempuan pun kemudian rajin memakai whitening lotion untuk memutihkan kulitnya, baik yang tempo beberapa bulan, atau hasilnya baru dirasakan beberapa minggu, bahkan yang instan, seperti yang ditampilkan dalam iklan di layar kaca. Tak jarang pula mengoperasi hidungnya biar tambah mancung atau payudaranya biar tampak lebih montok berisi, rajin mengkonsumsi obat antikolesterol untuk melangsingkan tubuhnya, rajin pedicure, manicure, mencukur bulu kaki agar tampak bening seluruh jasad badannya. Semua itu dilakukan karena keputihan (bukan pek tay lho), kemulusan, kemolekan tubuh adalah ukuran kesempurnaan bagi perempuan untuk disebut cantik, seksi.

Cantik adalah perempuan yang berkulit putih mulus atau kuning langsat, berhidung mancung. Seksi adalah perempuan yang berbibir tipis, langsing, berbodi serba proporsional. Anggun adalah perempuan yang bisa membawa diri dengan gaya pakaian dan perhiasannya (fashionable),atau gaya berjalan yang layaknya mannequin hidup, atau makan dan minum dengan etiket kelas internasional yang diajarkan di sekolah pengembangan diri. Sebaliknya, bila tidak memenuhi kriteria tersebut maka seorang perempuan tidak layak menyandang predikat cantik, seksi dan anggun.

Para laki-laki juga sama. Mereka berobat untuk menumbuhkan bulu didadanya. Ketika ustadz gaul yang berjenggot lagi ngetren, sejumlah pria pun berusaha menumbuhkan jenggotnya, tanpa kopyah dan koko tentunya. Atau rajin fitnes untuk memiliki bentuk tubuh seperti yang diidamkan oleh para perempuan seperti yang ditampilkan dalam iklan suplemen penambah stamina atau rokok sang petualang.

Aha… Dari mana sebenarnya definisi cantik, ganteng, gagah, anggun, dan seksi itu?

Sadar atau tidak, definisi itu terbentuk oleh lingkungan sekitar. Penilaian itu direkonstruksi oleh orang-orang disekitar kita. Di mana kita berada, di mana kita tinggal, dengan siapa kita bergaul, semuanya akan mempengaruhi pada penilaian kita. Dengan kata lain, penilaian itu tergantung pada komunitas yang memaknainya. Ingat fenomena penyakit panas dalam?

Di zaman serba-teknologi ini, media memegang peranan yang amat penting. Tayangan sinetron, infotainment selebritis, show anak band hingga iklan kecantikan atau obat kuat di televisi yang banyak digandrungi oleh kaum muda, laki-perempuan, ternyata banyak menyuguhkan definisi kesempurnaan kalangan tertentu.

Bintang film, bintang sinetron dipilih perempuan yang berkulit putih, berpostur tubuh proporsional, sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi penontonnya bahwa kesempurnaan, kecantikan itu seperti yang ada di layar kaca. Bahkan penyanyi yang mestinya menonjolkan kualitas suara pun tak kan mendapatkan tempat ketika tidak memenuhi kriteria tersebut.

Sungguh naif, orang-orang kampung yang menonton sinetron itu sekaligus juga mengkonsumsi gaya hidup (life-style) para selebritis. Mereka berdandan, bersolek, bahkan bergaul ala selebritis. Sementara apa yang dipertontonkan di layar kaca itu tak sepenuhnya sesuai dengan realita di sekitar kehidupan mereka, bahkan di lingkungan selebritisnya sekalipun. Toh itu hanya peran. Proletarisme-udik dan konsumerisme-metropolis saling bertabrakan. Dan anehnya, hal itu dianggap wajar, meski kadang bahkan sering hal demikian mengundang tawa dan senyum tertahan dari sebagian lainnya.

Kebanyakan sinetron menampilkan kehidupan secara hitam-putih. Keluarga kaya yang saleh dan rajin beramal, si miskin yang berandalan, atau sebaliknya, keluarga kaya yang tak pernah hidup harmonis. Atau lebih konyol lagi, suami ustadz sementara sang istri bejat, atau istri sholih bersuami pemabuk dan penjudi.

Kembali kepada definisi kecantikan, kegantengan, keanggunan dan keseksian seperti yang ditampilkan lewat televisi, bagaimana dengan penduduk Papua, yang notabene berkulit gelap, berambut keriting, berbibir lebih tebal, sama sekali beda dengan definisi kecantikan yang dipertontonkan oleh layar kaca. Apakah mereka harus memakai whitening lotion agar kulitnya berubah menjadi putih, agar mereka bisa disebut cantik, atau operasi bibir agar mereka bisa disebut seksi, atau rebonding agar rambut lurus bak model shampo? Sementara tidak sedikit bule yang rela berjemur berjam-jam untuk mendapatkan warna kulit gaya tropis.

Dalam kondisi masyarakat yang majemuk ini, definisi cantik di Indonesia perlu diubah. Bahwa cantik tak harus berkulit putih seperti bule, karena orang Indonesia rata-rata berkulit sawo matang, bahwa cantik tak harus berhidung mancung, bahwa anggun tak harus berpakaian merk terkenal dan bergaya makan bak miss universe, dan seksi tak harus berpayudara besar, dan lain-lain.

Bagaimana keuniversalan kecantikan, keanggunan, kegantengan, keseksian seseorang? Untuk memahami perbedaan, pertanyaan ini tak perlu diperdebatkan, karena tiap orang punya ketertarikan masing-masing, tiap orang memiliki daya pikatnya sendiri, dan semua tak bisa dipakai ukuran yang umum.

Beranikah Anda memaknai sebuah kecantikan secara lain dari versi orang kebanyakan, memaknai cantik yang tak harus sama dengan komunitas umum masyarakat, atau mengatakan cantik yang berbeda dari kecantikan yang diajarkan oleh televisi? Atau macho adalah tidak seperti yang dikata masyarakat kebanyakan?

Dalam peradaban Islam, seorang perempuan dikatakan cantik dan anggun bila memenuhi kriteria mampu meneduhkan pandangan suaminya, mampu menenangkan kegundahan hati suaminya dan ta’at pada suaminya. Perempuan dikatakan seksi apabila mampu menyenangkan suami dan mengundang desah kagum akan layanan istrinya. Dan pria perkasa, macho adalah yang mampu menidurkan istri dalam dekapannya. Menumbuhkan ketenangan dan ketentraman jiwa bagi pasangannya.

Lantas bagaimanakah sebenarnya ketika seorang ikhwan berseru cantik ketika mendapati seorang akhwat berjilbab rapi? Atau sebaliknya ketika seorang akhwat tersenyum penuh arti kepada teman akwatnya ketika seorang ikhwan berkoko rapi dan berjenggot tipis melintas di hadapan mereka?

Diambil dari (www.yakinku.wordpress.com)

2 comments Juni 23, 2008

ANAK-ANAK SMA MERAYAKAN KELULUSANNYA

Emmm…ho-oh, gmana ya?? ngomongin pelajar jadi harus maksa buat ngintip serba-serbi pendidikan di Indonesia. Berrrrraat neh…?? Standarisasi yang dijadikan kebijakan pemerintah memang cukup memaksa para pelajar saat ini harus berjuang keras untuk bisa lulus. Ck…ck…ck… Jujur neh, saya agak kurang setuju dengan standarisasi ini. kesannya setiap pelajar di Indonesia baru dianggap pinter kalo udah memenuhi syarat mata pelajaran yang ditentukan. Padahal, mungkin nggak sedikit yang bisa bahasa Inggris tapi matematika nya jeblok (becek…nggak ada ojek, nggak ada becak pula??!!He…). Sampe-sampe neh… di tempat tinggal saya di salah satu pegunungan di Yogyakarta, anak SD sejak dua bulan sebelum UN, sudah harus mengikuti les setiap jam 14.00 sampai 16.00 trus dilanjutkan pukul 19.00 sampai 21.00. Bisa dibayangkan capeknya mereka. Ini dilakukan bukan karena keinginan siswa itu sendiri, melainkan karena Sang Guru yang takut muridnya nggak lulus. Wahh…bisa-bisa jadi panjang kali lebar kalau diterusin ceritanya. Hehe… O…ya gara-gara standarisasi ini juga akhirnya banyak hal yang jadi kurang mendidik, yaitu masalah kerjasama saat mengerjakan ujian??!!! Sebenarnya kan nggak bisa juga disamain antara mereka yang sekolah di kota penuh fasilitas dengan mereka yang di pelosok, pedalaman, pinggiran meskipun tak menutup kemungkinan di pelosok pun bisa jadi pinter. Yang jelas, terburu-buru deh kalo standarisasi diterapkan sedangkan masih banyak yang harus belajar di bawah jembatan, tenda, ato tempat-tempat kumuh. Dannn…mbok kalo bikin standarisasi jangan cuma sebatas ilmu dunia, tapi juga menyangkut nilai-nilai moral (tapi bukan sekedar teori dari PPKN…)??

Jadi, kadang bisa dimaklumi juga sey kalo anak-anak SMA menjadi agak menjadi-jadi (apaan maksudnya??). Yah…mungkin mereka merasa telah cukup berhasil melampaui masa-masa sulit bagi mereka. Kalo jaman dulu, coret-coret lulus jadi momen yang biasa banget, toh sudah ada kepastian kalo bakal lulus, tapi sekarang…lulus itu dah jadi barang super mahhhallll!!! TAPI, emang nggak seharusnya juga mereka melupakan sebagian teman yang akhirnya harus berduka karena nggak lulus. Ihhh…sebenernya yang harus introspeksi siapa seh dalam kasus seperti ini??? Saya liat siswa juga nggak sepenuhnya bersalah kalo sampai meletup-letup kebahagiaannya (emang mercon…??). Yang jadi super sedih juga wajar karna mereka udah berusaha sekuat tenaga selama tiga tahun belajar ujungnya gagal…??(mending yang gagal yang biasa jadi anak bandel, lha kalo yang gagal itu anak baik pasti nyeselll banget!!). Intinya, saya jadi bingung…

Maaf ya…kalo komentar saya kali ini benar-benar membingungkan cos saya nggak bisa bilang siswa-siswi ini mempunyai kesalahan signifikan dari tindakan mereka. Saya pikir SISTEM yang memaksa mereka berbuat demikian. Wallahu A’lam…

By: DELIMA SWEETY

Selasa, 17 Juni 2008 – pukul 12.36

3 comments Juni 22, 2008

CINTA ITU ANUGERAH ALLAH

Manusia bukanlah makhluk yang tidak memiliki perasaan. Dengan karunia Allah, manusia diberi kelebihan dan kenikmatan yang amat besar. Salah satu di antaranya adalah manusia memiliki kecenderungan dan ketertarikan pada lawan jenisnya. Bahkan Allah menciptakan watak dasar seorang laki-laki senang pada wanita. selama ketertarikan terhadap lawan jenis ini diterapkan secara halal, maka tidak menjadi masalah. Bahkan Islam mengaturnya dan memerintahkan umatnya untuk menyalurkan cintanya dalam bentuk pernikahan yang halal dan menghalalkan. Pada beberapa sisi, cinta yang disalurkan dalam bentuk pernikahan bahkan malah dipuji. Karena naluri mencintai lawan jenis adalah watak dasar yang dimiliki setiap manusia, apapun agamanya dan apapun sukunya. Bila orang tidak menikah maka ia akan menyalurkan hasrat jasmaninya pada hal-hal yang dilarang agama, seperti berzina atau melakukan kemaksiatan lainnya. Dan tentu saja, baginya dosa yang besar dan diancam dengan siksa neraka. Namun bila ia menempuh jalan pernikahan sebagai solusinya, maka ia akan mendapatkan pahala.

Bukan seperti agama lain, Islam tidak melarang umatnya menikah. Islam sangat menyadari dan memahami kebutuhan manusia. Sehingga dengan karunia Allah, Islam mengatur cara, bagaimana seorang muslim memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan mencintai wanita / lelaki diberikan solusi dengan menyuruh mereka menikah secara halal.

Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang dingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di hadapan Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS. Ali Imran (3): 14

Jadi mencintai wanita atau pria adalah sebuah kewajaran, namun bukan berarti kemudian kita bisa menaruh hati dan melabuhkan perasaan pada setiap orang. Karena jawaban cinta lawan jenis adalah pernikahan yang halal dan menghalalkan.

Cinta kepada lawan jenis adalah fitrah, tapi bukan dengan alasan itu kita bebas mencintai dan mengemas hubungan melalui pacaran. Bukan dengan alasan itu kemudian kita berdalih apa yang kita lakukan dalam pacaran adalah sebagai wujud dari sifat fitrah yang kita miliki.

Sebenarnya kamu boleh mencintai wanita / pria yang kamu sukai. Asalkan wanita yang kamu cintai bukan wanita yang sudah bersuami. Dari apa yang kamu rasakan itu, kemudian kamu ikhtiari, kamu usahakan dengan beberapa ketentuan tertentu agar bisa berhasil menjadi pendamping hidupmu.

Dan tentu saja, mekanisme pendekatan (PDKT) memupuk cinta menuju pernikahan bukan melalui pacaran. Namun melalui mekanisme PDKT yang sesuai dengan syariat.

Namun lain persoalannya bila cinta tersebut hadir secara prematur. Cinta sudah menyapamu di awal usia remajamu. Kamu merasa bahagia, senang dan gembira karena ada seseorang yang menarik hatimu. Menyita seluruh perhatian dan kasih sayangmu. Selain itu, ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama. Lalu bagaimana ini? Akankah kamu segera akan menikah, karena jawaban dari perasaan cinta adalah pernikahan? Atau kamu malah mengambil jalan setan dengan mengajaknya pacaran?

Saran saya, bila cinta sudah terlanjur menyapa dalam kondisi diri belum siap mental, finansial dan spiritual untuk menikah, maka hendaknya jangan mengambil jalan pintas dengan pacaran. Karena pacaran bukan jawaban. Ia hanya menjanjikan kesenangan semu dan fatamorgana saja. Namun hendaknya kamu memendam perasaan itu dalam hatimu. Biarlah hanya kamu dan Allah saja yang tahu. Sembari berdoa semoga Allah menguatkan diri dan mempersiapkan hati untuk menyegerakan menikah. Segera bukan tergesa-gesa, karena keduanya benar-benar berbeda.

Bukankah selama ini pacaran selalu dikisahkan menarik dan menjanjikan kebahagian. Pacaran menjanjikan peristiwa-peristiwa indah, bermesraan, kasmaran dan sayang-sayangan. Dilambangkan bunga mawar, warna merah jambu dan seabrek kado dan bingkisan. Namun pernahkah kemudian kita mendengar kisah sedih para pelaku pacaran? Pernahkah kita mendengar jeritan hati mereka yang mendapat dampak dari keburukan pacaran ini.

LAKUKAN

Cintailah Allah, maka Allah akan mencintai kamu. Bukankah Allah adalah sebaik-baik Dzat yang harus kita cintai dan tidak boleh kita persekutukan? Dan bukankah itu adalah hak Allah, karena Dia sangat bahkan Maha Kuasa atas diri manusia dan jagad raya ini. Maka tunggu apalagi, cintailah Allah!

Cintailah apa yang dicintai Allah; berikan cintamu pada Rasulullah, para shahabat, tabiin dan tabiut tabiin. Cintailah orang-orang shalih di antara kalian dan kaum mukminin wal mukminat di seluruh dunia.

Cintailah sesuatu yang bisa mndatangkan cinta Allah. Cintailah perbuatan dan amal saleh yang akan mengantarkan kita ke jannah Allah. Cintailah amal shalih yang bisa membuat Allah ridla pada kita.

4 comments Juni 22, 2008

OH, DUNIA …

Jamu itu pahit

Pahitnya di lidah, sehatkan badan

Hidup itu susah

Susahnya hidup di dunia tak sebanding susahnya di Akhirat

Berjuang itu berat

Beratnya perjuangan dalam Islam ibarat menanam benih

Suatu saat datang masa panen

Berpikir itu njlimet

Njlimetnya berpikir memariasikan pola hidup

Sakit itu tak enak

Tak enaknya sakit menggugurkan dosa

Berpacaran itu asyik

Asyiknya pacaran mengundang setan

Menangis karena sedih

Sedih, lalu menangis adalah wajar … manusiawi

Gembira, tapi bercucuran air mata

Cucuran air mata bisa jadi sangat gembira

Terharu namanya

Bergerak maju pertanda sukses

Bergerak mundur belum tentu gagal

Menulis itu mudah

Membaca itu lebih mudah

Mendengarkan, paling mudah

Lidah tak bertulang pandai bersilat

Suasana hidup dirasakan hati tak terlihat

Gunung menjulang puncak tertutup awan

Hai para pejabat! Jangan lupa daratan

Add comment Juni 22, 2008

SYARAT MASUK JANNAH, CINTA ORANG MISKIN

Kebanyakan orang benci kepada hidup miskin. Hidup miskin digambarkan suatu keadaan yang antara kebutuhan dan pemasukan tak seimbang. Atau bahkan suatu keadaan yang tak pernah mendatangkan keuntungan, tapi kebutuhan ini dan itu selalu menumpuk tak tertutupi. Susah. Suram.

Sebutan-sebutan yang sering didengar untuk mereka adalah orang kere, orang gembel, wong ora duwe, dll. Keadaan mereka erat sekali dengan perut lapar, jarang mandi, baju lusuh bertambal, minim pendidikan, tidur beralaskan koran atau kardus. Rumah-rumah mereka sering dinobatkan sebagai rumah-rumah kumuh. Jalan raya, pinggir sungai, bawah kolong jembatan sebagai kantor-kantor mereka yang berukuran lebih luas daripada istana merdeka atau gedung DPR.

Kenapa mereka hendak membumihanguskan kemiskinan atau mengentaskan rakyat dari kemiskinan? Yang saya maksud dengan ‘mereka’ adalah orang-orang yang benci dengan kemiskinan, termasuk para pejabat pemerintah yang menggembar-gemborkan ‘antikemiskinan’, ‘berantas kemiskinan’. Dengan apa mereka akan membunuh makhluk misterius yang bernama kemiskinan? Cukup banyak sudah usaha mereka untuk memberantas kemiskinan. Ironisnya, apa yang terjadi? Kemiskinan semakin menjalar ke mana-mana, semakin ganas, dan semakin meluas.

Apakah mereka tidak pernah merasa berterima kasih dengan orang-orang yang terjangkit kemiskinan. Bagaimana mungkin mereka disebut orang kaya kalau tidak ada orang miskin? Bagaimana mungkin mereka menjadi para pejabat negara kalau tidak mempunyai rakyat bawah? Dan bagaimana mereka bisa menduduki kursi bos atau manager apabila tak seorang pun yang bersedia menjadi pegawai, pesuruh atau karyawan? Apakah sikap keras ingin membunuh kemiskinan itu sebagai tanda terima kasih kepada orang-orang miskin yang telah banyak membantu meringankan tugas dan mencarikan rizki orang-orang kaya?

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ بِفُقَرَائِكُمْ

“Sesungguhnya tiada lain kalian ditolong dan diberi rizki dengan perantaraan orang-orang fakir miskin.”

Jadi, sebenarnya ada banyak keuntungan yang didapat dalam hidup bersama orang-orang miskin. Pertolongan dan rizki itu sumbernya dari Allah yang akan diberikan kepada manusia melalui banyak jalan, salah satunya melalui orang-orang miskin. Kalau banyak manusia yang ingin menghapus keberadaan orang-orang miskin, maka itu sama saja artinya dengan menghapus salah satu jalan turnnya pertolongan dan rizki dari Allah. Betul?

Kenapa mereka tidak memakai istilah-istilah ‘meringankan’ atau ‘membantu’ rakyat miskin? Apakah mereka malu hidup berdampingan dengan orang miskin?

Kalau jawabannya ‘ya’ lalu memangnya apa yang bisa dibanggakan dan diharapkan dari orang-orang miskin?

Rasulullah bersabda:

لِكُلِّ شَيْئٍ مِفْتَاحٌ ، وَمِفْتَاحُ الْجَنَّةِ حُبُّ الْمَسَاكِيْنِ وَالْفُقَرَاءِ

“Segala sesuatu mempunyai kunci sedangkan kunci jannah (surga) adalah cinta orang-orang miskin dan orang-orang fakir.”

Apakah mereka masih bersikeras ingin mengubur dalam-dalam kemiskinan? Apakah mereka ingin kehilangan kunci surga?

Baiklah, kalau mereka tidak menginginkan hidup miskin, tapi apakah seharusnya mereka memusuhi orang lain yang rindu hidup miskin, misalnya Rasulullah Muhammad saw pernah berdoa:

أَللَّهُمَّ أَحْيِنِيْ مِسْكِيْنًا

“Ya Allah, hidupkan aku menjadi orang miskin.”

Hah, berdoa menjadi orang miskin?

Yang jelas, hidup miskin dijamin masuk surga lebih dulu daripada orang kaya, sebab hisabnya paling cepat di hadapan Allah besok. Dan selayaknya kita mengucapkan syukur Alhamdulillah, bisa membantu orang miskin. Mudah-mudahan pintu rizki terbuka lebar dan sekaligus kita mengantongi kunci surga. Amin.

1 comment Juni 22, 2008

KASUS FPI MENGUNTUNGKAN BANYAK PIHAK

Buntut dari penyerangan FPI terhadap AKKBB di Monas, lebih dari 50 orang anggota FPI diciduk Polda Metro Jaya. Berbeda dengan apa yang disampaikan pembawa berita Metro TV pada Rabu pagi, bahwa “Seribu lima ratus polisi menyerbu, dan laskar FPI menyerah tanpa daya”, nyatanya secara langsung stasiun stasiun-stasuin TV menayangkan bahwa Habib Riziq sebagai Ketum justru menyerahkan anggotanya secara baik2, dengan negosiasi yang sangat mudah. Sama sekali tanpa penyerbuan, apalagi perlawanan—sehingga tak perlu kiranya ditambah embel-embel ‘tanpa daya’.

Lagi-lagi media yang berperan penting terhadap opini masyarakat melakukan ‘kekhilafan’ (saya beri kutip karena tak yakin ini sebuah ketidaksengajaan). Setiap hari ba’da tragedi itu, media massa, terutama Metro TV selalu bernada sinis dalam menyampaikan beritanya. Stasiun dengan label Election Channel itu mendadak tak profesional dengan ketimpangannya menyampaikan informasi.

Sebenarnya tak hanya masyarakat awam yang menyayangkan tindakan FPI terhadap AKKBB, saya yakin para ulama dan aktivis Muslim pun berpendapat sama. Karena dengan demikian, Ahmadiyah justru mendapat angin segar. Bisa jadi masyarakat kemudian malah menaruh simpati pada mereka, seperti apa yang diupayakan Israel dengan dongeng Holocoustnya.

FPI mungkin lupa bagaimana Ali k.w menahan tangannya karena tak ingin melukai karena marah—seharusnya karena Allah. Apalagi pemerintah tak mau mengerti mengapa FPI marah pada AKKBB yang mendukung Ahmadiyah dan dimotori JIL (Jaringan Islam Liberal—sering dipelesetkan menjadi Jaringan Iblis Laknatullah—karena penyimpangannya tak kurang parah dari Ahmadiyah, dengan tidak mengakui keaslian al-Quran, menghalalkan homoseksual, dan kerap mendukung aliran-aliran sesat berkedok atas nama HAM). Hal ini diperparah dengan ketidakimbangan informasi yang didapat masyarakat umum.

Media massa umumnya lebih suka menampilkan berita pengrusakan oleh FPI, tapi tak sekalipun mereka sudi meliput kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang pernah FPI gelar. Salah satu contoh, saat Tsunami menerjang NAD. Belum lagi aparat dan bantuan pusat menempelkan ujung kakinya di tanah Serambi Makkah itu, laskar FPI dan kader PKS telah menggendong mayat dan mendirikan posko bantuan. Dijamin, berita ini tidak akan Anda temui di media-media besar. Stasiun-stasiun TV lebih suka mengabadikan adegan lempar kardus mi instan dari helikopter oleh bule-bule Amerika daripada men-shoot ketua MPR-nya yang mengangkat bangkai manusia dari puing-puing bangunan. Tak berbeda dengan media elektronik, media cetak pun lebih gandrung menjepret tentara-tentara kulit putih yang melemparkan bantuan dari udara daripada Habib Riziq dan pemuda-pemuda FPI yang bergumul dengan lumpur sementara lisannya penuh dengan dzikir.

Pun kalau memang lebih banyak sikap keras yang diperlihatkan FPI, coba perhatikan baik-baik benda dan tempat apa yang mereka jadikan target. Pernahkah FPI menyerbu gereja? Atau memorakporandakan fasilitas pendidikan dan kesehatan? Yang dihancurkan FPI adalah bar, warung remang-remang, tempat biliard, dan sarang maksiat lainnya.

Sebenarnya beberapa paragraf di atas saya ketik sejak sekian hari lalu, tapi kemudian saya merasa perlu menambahkan lagi. Mengingat, ada banyak hal terkuak belakangan ini.

Ada sebuah keganjilan yang terjadi pada 1 Juni itu. Pada wartawan SCTV, sekjen PDIP, Poernomo Anung, menjelaskan, ia mendapat kabar dari salah seorang intel bahwasanya akan terjadi kerusuhan di monas bersamaan dengan aksi memperingati hari Pancasila—yang pada saat bersamaan, FPI mengadakan aksi menolak kenaikan BBM. Bagaimana mungkin yang bersangkutan bisa mengetahui hal tersebut jika memang tidak direncanakan demikian? Apalagi bentrok itu terjadi di depan istana, tanpa seorang aparat pun yang bersiaga di sana. Satu hal yang mustahil, kecuali jika memang itu yang diinginkan. Alhasil, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. FPI sebagai ormas Islam paling kritis dan berani terancam dibubarkan, isu BBM pun dilupakan. Selamat!

by: SYARIFAH LESTARI

Jumat, 6 Juni, 2008 – pukul 3:17

Add comment Juni 22, 2008

JUST READ

Ada berbagai teori dikemukakan beberapa tokoh seputar da’wah. Dari tulisan-tulisan Hasan al-Banna yang telah almarhum, sampai teman-teman seperjuangan yang kalimat-kalimat mereka mungkin hanya copy-paste dari buku seseorang, atau memang asli pemikiran mereka tapi tak satu orang pun berpikir untuk membukukannya. Isi teori mereka lebih kurang sama. Kalau tidak AB, ya BA, atau ABA, BAA, ABB, dst.

Menyusun sebuah teori, meski bukan hal mudah, juga tak teramat sulit dibanding aplikasinya. Sekian banyak teman mengeluhkan teman-teman yang lain karena sering lalai terhadap amanah, sementara orang yang mereka maksud—meski ybs tidak menyebut namanya, tapi saya tahu siapa saja—adalah para aktivis dengan sederet pengalaman mengisi berbagai agenda. Oya, mereka hanya mengisi hal-hal berbau teori. Ceramah panjang yang membosankan, tentunya.

Saya pernah membaca sebuah hadits, dan seperti biasa, ada kesalahan fatal yang sampai sekarang sulit saya perbaiki: lupa mengingat siapa perawi dan tak mencaritahu sanadnya. Entahlah, apakah hadits tersebut tergolong dhaif, hasan, atau shahih. Bunyinya lebih kurang: “Perpendeklah tausiah!”

Jika hadits di atas derajatnya berada pada tingkatan yang pantas (bukan dhaif, munkar, dsj), mungkin Rasulullah saw khawatir umatnya terjebak pada tindakan tak bertanggungjawab, salah satunya suka mengobral teori, sementara ia sendiri tak melakukannya bahkan sebesar biji sawi. Na’udzubillah.

Dalam pembukaan berbagai acara, beberapa teman di organisasi lebih suka membacakan awal surah ash-Shaf atau pengujung surah asy-Syu’ara. Ayat-ayat yang dimaksud dari dua surah itu adalah penegasan tentang kebencian Allah pada orang-orang yang tidak melakukan apa yang ia sampaikan. Sayang, sepertinya banyak teman yang enggan membaca terjemah Quran sementara mereka mengaku tak paham bahasa Arab.

Berkaca pada diri sendiri, ada banyak hal yang terlewat untuk dikerjakan. Sementara ada banyak omong besar yang menguap ke langit tanpa disaksikan makhluk Allah yang lain aplikasi dari segala keroyalan nasihat itu. Apakah kita suka, mendengar lantunan teori ideal dari seorang yang cacat sifat amanahnya?

Kepada para ikhwan, yang fasih bertausiah, tapi tertatih-tatih mengemban amanah sebiji sawi.

by: SYARIFAH LESTARI

Saturday, 21 June, 2008 8:54 PM

Add comment Juni 22, 2008

Beragama Islam, tapi kok . . .

Rasulullah Muhammad saw, selain pemimpin negara, juga memimpin seluruh umat Islam di dunia. Setelah wafatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra tampil sebagai kholifah (pengganti). Lalu Umar bin Khotob, Usman bin Affan, kemudian Ali bin Tholib, secara estafet, meneruskan dan memegang kekuasaan atas muslimin di seluruh dunia.

Umat Islam zaman sekarang, katanya berpegang teguh sunah Rasul, tapi kok . . .

Rasulullah bersabda bahwa Islam tiu unggul tidak akan diungguli. Semenjak beliau secara resmi diangkat sebagai Rasulullah, khususnya dilantik sebagai kepala negara Madinah Al-Munawarah hingga kepemimpinan Al-Khulafaur Rasyidun selama kurang lebih 10 tahun, muslimin semakin disegani oleh lawan-lawanyanya, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Kini, muslimin di Palestina, Afghanistan, Irak dan negara kita sendiri Indonesia yang meyoritas penduduknya beragama Islam, para pemimpinnya juga mengaku Islam, tapi kok …

Ketika musim pemilu datang, semua capres-cawapres muslim mengobral janji-janji baik, seperti akan meningkatkan mutu pendidikan, bahkan dibikin gratis, memperbaikin ekonomi, melindungi, mengayomi dan slalu berpihak pada rakyat, dekat dengan ulama, menciptakan banyak lapangan kerja serta menegakkan hukum.

Begitu dua orang dari mereka terpilih menjadi presiden dan wakilnya, keputusan dan kebijaksanaan pun diambil, tapi kok . . . pendidikan . . . ekonomi . . . BBM . . . penjara penuh ulama dan aktivis . . . pengangguran . . . koruptor dibiarkan . . . pelaku kriminal . ..

Hasil UAN ditempelkan di papan-papan pengumuman sekolah. Para pelajar berbondong-bondong menyaksikan dengan hati yang berdebar-debar, antara optimis dan pesimis, lega dan was-was.

“Horee . . . aku lulus!” teriak seorang pelajar yang namanya tercantum dalam kolom lulus. Lalu ia dan temen-temennya yang lulus pula segera mengendarai sepeda motor, saling berboncengan. Mereka melakukan konvoi di sepanjang jalan raya hingga jalur lalu lintas menjadi macet.

Di tempat lain, beberapa pelajar, siswa dan siswi, melakukan aksi corat-coret baju. Sebagai tanda persahabatan, tak sedikit dari mereka yang cipika-cipiki, saling rangkul. Dan masih banyak lagi aksi-aksi lain yang hanya sekedar meluapkan rasa kegembiraan.

Katanya sich mereka pelajar-pelajar Islam, tapi kok . . .

Diprediksikan angka ketidaklulusan para pelajar tahun ini bakal naik. Menangis, kecewa, terbengong-bengong, kaget, seakan-akan terbuai dalam mimpi, bahkan ada yang jatuh pingsan. Suasana sedih dan perasaan tidak puas, para pelajar harus menerima kenyataan pahit ini. Siapa yang salah?

Add comment Juni 22, 2008

Previous Posts


 

Juli 2009
M S S R K J S
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip

Blogroll

Tulisan Terakhir

Meta

Komentar Terakhir

Milly di REMAJA SEKARANG SUKA MENGUNDAN…
kamal musthofa di “Hujan” turun, malah bikin ker…
h a b i b di “Hujan” turun, malah bikin ker…
Emen-C di AKU DALAM MUNAQASAH
rumisha di CINTA ITU ANUGERAH ALLAH
h a b i b di AKU DALAM MUNAQASAH
nurhadihusna di AKU DALAM MUNAQASAH
ita di TUBUH DI JILBAB, HATI TEL…

Halaman

Tulisan Teratas

RSS yakinku